Syeh Djangkung di Palembang

Pada malam hari Syeh Djangkung sampai di pesisir pantai Palembang dengan membawa dua buah kelapa dan beliau masuk di jumbleng istana Palembang tanpa diketahui seorangpun, sampai tidak tahan bau kotoran lalu pindah duduk diatas babut. Pada waktu pagi hari seorang abdi dalam yang hendak buang air melihat Syeh Djangkung dan abdi dalam ini seketika lapor apa yang dilihatnya kepada Sultan Palembang Segera Sultan Palembang perintahkan para prajurit dan punggawa keraton untuk mengepung jumbleng, hingga Sen Djangkung ditangkap serta hendak dihukum pati. Penasehat Sultan Palembang sebaliknya mengusulkan “jangan dihukum mati dahulu, mungkin tahanan itu akan dapat menghalau wabah penyakit yang sedang terjadi di negeri Palembang yang menyebabkan banyak diantaranya rakyat Palembang meninggal dunia.”

Usul Penasehat diterima oleh Sultan Palembang dan setelahnya beliau menghadap, di beri pertanyaan oleh Sultan Palembang “ apakah syeh djangkung bersedia mengobati rakyat palembang yang lagi sakit?” jika beliau berhasil mengobati rakyat Palembang maka beliau tidak jadi di hukum mati oleh Sultan. Syeh Djangkang menyanggupinya, tetapi beliau mengatakan “belum tentu yang di lakukan berhasil dan jika berhasil mungkin hanya sekali dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Malam hari, Syeh Djangkung berdoa kepada Allah yang maha kuasa dengan malakukan sholat dua rekaat. Ketika waktu sudah berganti, di pagi harinya rakyat palembang yang sakit sudah sembuh kembali. Sultan Palembang begitu lega dan berterima kasih atas bantua dari Seh Djangkung sehingga  putra putri Sultan Palembang bernama R.A. Retno Diluwih di Jodohkannya dengan beliau serta Seh Djangkung diberi gelar Sultan dengan menguasai separo dari negeri Palembang disamping Sultan Palembang sendiri. Dari pernikahan ini lahir seorang putra putri bernama R.A. Saenti. Setelah setahun beliau di Palembang dan sudah mempunyai gelar Sultan, hati nurani Syeh Djangkung menganggap didrinya kurang pantas sebab beliau belum menyelesaikan perjalanan hidupnya. Saat tengah malam, istri dan penghuni istana pada tidur Syeh Djangkungpergi dari istana Palembang sembunyi – sembunyi tanpa pamit kepada istrinya dengan tetap membawa dua buah kelapanya itu.